wikiGo News Bisnis – Toko grosir sepatu merasakan penurunan penjualan yang sangat tajam sepanjang tahun 2020. Daya beli konsumen dari daerah serta lajunya online shop menjadi dua faktor penting yang membuat lesu penjualan grosir selama masa pandemi corona.

Berkurangannya Pembelian Dari Daerah

Selama ini, toko grosir sepatu mengandalkan hampir separuh pemasukannya dari pembelian dari pemilik toko dari daerah. Terdapat setidaknya 3 pusat perbelanjaan grosiran sepatu terbesar di jabodetabek yakni pasar Jatinegara di DKI, pasar Anyar di Bogor, dan pasar Cikupa di  Tangerang. Ketiga pusat grosir sepatu ini menyuplai ke seluruh penjuru tanah air termasuk untuk suplai ke luar pulau seperti Kalimantan dan Papua.

Pemilik toko grosir sepatu umumnya memiliki langganannya di tiap daerah atau pulau. Sebelum pandemi, pembeli dari luar daerah datang belanja setidaknya sebulan sekali. Untuk pulau-pulau terjauh, bisa 2 atau 3 bulan sekali. Dengan jumlah pembelian yang tergolong besar, konsumen dari luar daerah memberikan pemasukan utama kepada toko-toko grosir. Maka ketika jumlah pembelian tersebut menurun, banyak toko grosir yang akhirnya sepi. Sebagian tutup untuk waktu yang tidak tentu.

Faktor penyebab banyak konsumen besar dari daerah mengurangi pembelian meliputi hal-hal berikut yang merupakan dampak dari kebijakan-kebijakan selama pandemi:

  • WFH. Kebijakan WFH dan PSBB di berbagai daerah secara signifikan melambatkan penjualan sepatu di toko-toko. Kebutuhan akan berbagai jenis sepatu (formal, sport, sekolah dan sepatu fashion) menurun.
  • Kebutuhan terhadap sepatu sekolah menurun. Banyak pedagang dari luar kota dan luar pulau mengandalkan penjualan sepatu terhadap murid. Khususnya sepatu bercorak hitam. Pada tahun ajaran baru tahun 2020, kebijakan sekolah dari rumah berpengaruh besar terhadap belanja kebutuhan anak sekolah, termasuk sepatu.
  • Sepinya orderan dari daerah khususnya luar pulau disebabkan pula terhambatnya jalur distribusi khususnya distribusi jalur laut dan darat. Banyak toko-toko di daerah memutuskan menjual stok yang ada ketimbang menambah barang sementara pengiriman sedang tidak selancar biasa.

Pada tahun 2021, terdapat kekhawatiran dari sejumlah pedagang toko grosir sepatu mengenai kondisi yang belum menentu. Bukan tidak mungkin jika pandemi masih panjang, maka akan memperpanjang pula daftar toko-toko grosir yang tutup.

Persaingan Yang Tidak Seimbang Dengan Toko Online

Meskipun perkembangan toko online sudah sejak beberapa tahun silam, tetapi tahun 2020 menjadi masa penting ketika toko online mengubah peta pembelian secara besar-besaran. Melambatnya pertumbuhan toko ritel atau toko eceran menyebabkan konsumen beralih kepada toko online. Selain itu, terdapat poin-poin yang menunjukan trend bahwa toko online akan semakin meninggalkan pesainya yakni toko grosir sepatu konvensional.

  • Diskon besar-besaran. Banyak pemilik bisnis sepatu melakukan diskon melalui online shop atau market place. Diskon ini sebagai akibat dari menumpuknya jumlah stok di gudang serta memancing daya beli masyarakat di tengah kesulitan ekonomi.
  • Konsumen bisa berbelanja langsung dari agen pusat. Bahkan dari produsen. Rantai distribusi yang tidak meyakinkan sepanjang tahun 2020, membuat banyak agen besar dan produsen memutuskan untuk menjual langsung barangnya kepada konsumen lewat jalur online. Imbasnya, pemilik toko grosir kehilangan separuh besar pemasukan.
  • Berhentinya roda produksi kelas menengah ke bawah. Mandeknya penjualan di toko grosir, mengakibatkan para pengrajin sepatu mengurangi suplai ke toko grosir. Sebaliknya banyak di antara mereka memproduksi sepatu dalam jumlah kecil untuk langsung dipasarkan melalui toko-toko online.

Dengan ini, toko grosir mendapatkan pukulan yang berat baik dari pelaku bisnis online maupun dari konsumen.

Solusi Paling Mungkin Adalah Terjun Ke Market Place

Kalau penyebab utama penurunan bisnis grosiran sepatu adalah wabah, maka hingga akhir januari 2021 belum ada yang berubah ke arah yang lebih baik menyangkut corona.  Khususnya wilayah Jakarat, kasus Covid – 19 setiap hari masih sangat tinggi.

Melihat kondisi ini, maka pedagang grosir sepatu harus memiliki rencana B untuk mempertahankan pemasukan. Salah satunya dengan membuka toko-toko online. Cara ini paling memungkinkan, karena:

  • Pedagang grosir memiliki stok yang masih melimpah.
  • Harga yang bisa diterapkan lebih murah mengingat mereka adalah pedagang grosir.
  • Mengurangi biaya operasional.

Memang mengubah wajah toko grosir ke toko online tidak mudah. Dengan kebiasaan pemilik toko menjual dalam jumlah besar dalam satu lembar nota, maka membuka toko online menyebabkan mereka menghadapi situasi baru dimana mereka menjual barangnya dalam hitungan satuan. Meski demikian, solusi ini bisa mempertahankan pemasukan mereka. Dan tidak menutup kemungkinan, setelah pandemi berakhir mereka akan kembali membuka toko grosirnya seperti biasa.