Etika Bermedia Sosial, Tamparan Buat Kaum Millenial

 Etika Bermedia Sosial, Tamparan Buat Kaum Millenial

techno.okezone.com

wikiGo News Pendidikan-Sebagai manusia yang mengaku dan mengatakan dirinya sebagai ‘milenial, makhluk social, makhluk sempurna’ tentu harusnya menyadari, bahwa pada hakikatnya kehidupan kita ini bukan hanya sekedar untuk ‘bersenang-senang’, kemudian mati, dikuburkan, lalu semua selesai. Hey, kehidupan dan kematian mempunyai fasenya masing-masing.

Kamu nggak bisa mengatakan ‘lah kalau udah mati ya mati aja’ dengan mudah. Toh Tuhan nggak bakalan menciptakan kita sia-sia. Makanya, nggak semudah itu bro. Kadang ya, pikiran bahwa mati menyelesaikan sebagalanya, kerap membuat banyak orang suka melakukan hal-hal yang membuatnya bahagia, meskipun harus menyakiti orang lain. Miris euy.

Inilah yang dinamakan sebagai fenomena ‘berbahagia di atas penderitaan orang lain’.  Dan sayangnya, di era milenial saat ini fenomena tersebut justru sering kita temukan. Mana yang katanya pola pikir sudah maju dan berkembang. Nggak ada. Bahkan melihat fenomena ini, kita bisa mengatakan, bahwa di tengah hebatnya perkembangan teknologi, dengan beredarnya berbagai media social justru membuat moral generasi kian terkikis.

Berkembangnya teknologi ternyata tidak menjamin pola pikir kita berubah. Mirisnya lagi, kita kerap menjadikan media sosial sebagai sebuah ajang untuk mengekspresikan diri secara berlebihan, dan ini bukan hanya dilakukan oleh satu atau dua orang, melainkan banyak orang.

Kita bisa melihat, berapa banyak orang-orang yang dengan ringan tangan mengetikkan kalimat ‘seolah-olah’ dia adalah yang paling benar, menghakimi orang lain tanpa tahu duduk perkaranya, menghina sebuah golongan yang berbeda pandangan dengannya, atau bahkan, anak-anak sudah tidak lagi mempunyai etika ketika berkata, meski di media social.

 Tentu hal ini sangat kita sayangkan. Dan miris pastinya, tatkala melihat kondisi generasi yang seolah berada diambang kesuksesan dan kejayaan ini, padahal isinya ntah bagaimana. Kita juga sangat menyayangkan,  jika pada akhirnya perkembangan teknologi ini justru merusak bukan memperbaiki, memundurkan, bukan memajukan.

Ya begitulah, kita tak dapat menyalahkan zaman digital tentunya. Lantas siapa yang dapat kita salahkan. Mari merenung. Mari kembali berpikir, bahwa bermedia social juga ada adabnya, ada etikanya loh. Sama seperti di dunia nayata. Jadi, jangan mentang-mentang lawan bicara tidak terlihat, tidak berwujud lantas membuat kita malah kesetanan untuk menghakimi, mengata-ngatai. Hei ingat, kapanpun dan dimanapun, kita semua berada di dua pihak, bisa menjadi pihak yang menghakimi dan bisa menjadi yang dihakimi.

Kamu sadarnya pas menghakimi aja kali, lupa bahwa di luar sana, juga ada ribuan atau bahkan jutaan orang yang menghakimi kamu. Bayangin aja dulu. Jadi, coba deh menyikapi perkembangan zaman ini dengan baik. Karena yang namanya perubahan tentu diharapkan menuju ke arah yang lebih baik.

Ayo deh kita flashback ke belakang dikit aja, dulu, mungkin di antara kita ada yang ngerasain, bahwa persebaran informasi itu lambat banget loh. Bahkan butuh waktu seminggu. Bayangin, kejadiannya udah seminggu yang lalu, dan kamu baru tahu hari ini. Itu dulu. Namun, meskipun persebaran berita lambat, masyarakat yang dulu punya etika bro, mereka menjunjung tinggi yang namanya akhlak.

Kalau dulu pas hidup nelangsa aja bisa se-beradan, berakhlak, dan beretika itu, masa ia kita yang hidupnya sudah serba enak masih mau kalah. Ayo dong. Ayo sama-sama menyadari, bahwa semua apa yang kita kerjakan selama di dunia bakalan dimintai pertanggungjawaban loh. Nggak ada yang namanya habis mati enak-enakan, layaknya orang tidur. Nggak cuy. Tuhan nggak bakalan menciptakan kita buat menghujat orang lain dan menjadi hakim paling benar.

Came on gais. Pembahasan seputar etika bermedia social sudah dibahas banyak orang loh, masak ia nggak ada satupun yang nyantol di hati kita, masak ia nggak ada satupun yang bisa membuat hati kita terketuk dan tergerak buat berubah, masak ia dari sekian banyaknya nggak ada juga yang membuat kita tersentuh, trus sadar dan ngomong ‘Eh ia sih aku sering. Ya ampun. Nggak lagi deh. Taubat.’

Pembahasan etika bermedia social nggak Cuma sekali dua kali loh cuy dibahas, berkali-kali. Bahkan yang ngebahas juga dari berbagai golongan. Golongan apa aja ada. Ayolah, saya yakin kok, kita semua udah dewasa, udah bisa mendeteksi yang baik dan benar, dan mana yang boleh dipilih mana yang nggak bisa dipilih.

Sekali lagi, meski bermedsos hanya sebatas dunia maya, tetap saja, akhlak kita tetap harus ada di sana. Kita harus menjadikan interaksi di media social juga sebaik interaksi kita secara langsung. Katakanlah kata-kata yang baik, sopan santun. Dan yang paling penting, kita harus mikir dulu kalau mau bicara, jangan asal ceplos.

Mungkin ada yang bilang, kaku banget hidup lo. Hey gais, ini bukan soal kaku atau nggaknya. Ini soal hati. Kita nggak pernah tahu loh hati teman kita mana yang kuat, di bagian apa saja dia kuat, dan lain sebagainya. Nggak bisa kita bilang, orang lain dasar baperan. Masalah dia sudah banyak, masak ia mau kita tambah dengan masalah lain.

Bagi kita spele dan kecil banget, tapi bagi orang lain, bagi lawan bicara kita tentu tidak sama. Dan kita nggakbisa memaksakan persepsi kita dengan orang lain. Sesederhana itu sebenarnya akhlak bermedia social jika kita paham.

Maka, ayo deh mulai dari yang sederhana. Misalnya adalah dengan selalu menahan jari kita untuk tidak menghakimi dan berkomentar yang akan menyakiti orang lain. karena meskipun bentuknya hanya tulisan, satu kalimat, di media social lagi, ini tetap sangat berdampak besar bagi pribadi seseorang loh.

Jangan sampai banget, hanya karena dalih kamu ‘becanda’ ada hati yang tersakiti. Jangan sampai, karena ketikan kamu malah ada yang trauma. Kebayangkan gimana berbahayanya efek dari kata-kata. Apalagi nih, emotteman kamu bisa saja ketawa berseri-seri, bahagai ketika kamu mengatakan sesuatu, namun, isi di lubuk hatinya siapa yang tahu. Ngak ada bro, kecuali dia dan Tuhannya. Bayangkan, jika karena komentar kita yang menyakiti, kemudian dia mengadukannya kepada Tuhan dan mendoakan yang buruk, bukankah akan sangat mudah bagi Allah mengabulkannya, karena doa orang yang teraniaya adalah mustajab. Ngeti banget kan.

Ayolah gengs, masak ia kita mau kembali lagi ke zaman dulu. Nggak mau kan. Jangan sampai yang pintar cuma ponselnya doang, yang puna nggak . Yuk sekali lagi, tahan jari kita dari mengetikkan sesuatu yang tidak baik.  Cobalah memahami, bahwa akhlak di dunia nyata dengan akhlak bermedia social itu sama. Yang namanya akhlak itu tidak pilih tempat dan kepada siapa.

Melainkan kepada siapapun dan dimanapun, maka kita wajib berbuat baik, dan berkata-kata yang baik. Jangan sampai, hanya karena jari kita yang tak dapat kita filter kita termasuk orang yang dhzalim.

Demikian serangkaian cuap-cuap yang semoga berfaedah. Mari sama-sama berbenah. Jaga tangan dan lisan kita. Upayakan agar selalu mengatakan yang baik-baik saja. Mari millennial, kita jadikan bermedia social sebagai ladang pahala.

ayahmak

Pulang dan senja~

Baca Info

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *