wikiGo News Pendidikan –

Menjadi bagian dari Indonesia adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari hal ini tersebut. Indonesia merupakan yang dianugerahkan banyak hal oleh Allah, salah satunya adalah anugerah bahwa Indonesia menjadi negara yang memiliki penduduk muslim terbesar sedunia. Hal ini patut membuat kita merasa bangga terhadap Indonesia, dan dengan segala kelebihan kelebihan yang telah dititipkan oleh Allah subhanahu wa Ta’Ala kepada Negara ini.

Sebagai negara muslim terbesar di dunia, tak heran jika kemudian Indonesia memiliki banyak sekali tokoh-tokoh yang hebat, tokoh-tokoh yang berani dalam memperjuangkan kebenaran, yang berani pasang badan dalam berjuang membela negaranya, membela haknya, dan lain sebagainya. Nah di awal abad ke-17 Masehi, kajian Islam di Indonesia memiliki sejarah yang sangat penting untuk dikenang. Hal ini karena di awal abad ke-17 tersebut ada perkembangan yang cukup luar biasa di bidang kajian hadis di Indonesia. Hal ini ditandai dengan mulai banyaknya kitab-kitab hadis yang mulai bermunculan, contohnya adalah kitab hadis karya Nuruddin al-Raniri dengan judul Hidayatul habib, ada juga kitab karya Syekh Abdurrauf as-Singkili, Al Fansuri dan lain sebagainya.

Akan tetapi, jika diperhatikan, karya-karya dari beberapa ulama tadi memiliki orientasi terhadap praktek-praktek beragama saja, dan yang kerap dibahas hanya seputar kajian fiqih dan akhlak. Dulu, di masa tersebut, kajian hadis yang membahas mengenai keotentikan hadis terbilang sangat minim. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pada masa itu, kajian hadis belum dilakukan secara lengkap, seluk-beluk hadits tidak mendapatkan perhatian yang mendalam. Tampaknya, hal ini adalah sesuatu yang wajar sih, karena saat itu orientasi dari dakwah adalah untuk mengembalikan umat agar tetap beribadah kepada Allah, berpegang tegush terhadap sunnah, dan saat itu juga mungkin kajian keotentikan hadis dianggap belum begitu penting untuk dibahas, atau malah belum dibutuhkan. Sangat berbeda dengan kehidupan masa ini.

Nah di abad 21 Masehi, mulai terjadi perkembangan yang juga sangat luar biasa terhadap kajian hadis. Karena di awal abad 21 Masehi, kajian hadis mengenai keotentikan hadis mulai mendapatkan perhatian yang cukup dalam bagi beberapa ulama Hal ini karena ulama-ulama mulai merasa bahwa ilmu dirayah atau ilmu yang membahas tentang seluk beluk hadis terbilang sangat penting. Salah satu ulama yang memperhatikan betul masalah keotentik hadis ataupun ilmu dirayah ini adalah Ali Mustafa Yaqub.

Beliau telah almarhum , semoga dirahmati oleh Allah. Ali Mustafa Yaqub dilahirkan dari orang tua yang mengabdikan dirinya kepada agama. Kedua orang tuanya adalah muballigh dan muballighah. Keluarganya adalah keluarga yang terbilang sangat terkemuka di masanya. Ibu Ali Mustafa Yaqub berjuang bersama dengan ayahnya, membantu perjuangan ayahnya dalam menegakkan Islam dengan sangat sangat tulus.

Tak heran jika kemudian Ali Mustafa Yaqub mulai tumbuh sempurna. Ia tumbuh layaknya anak-anak seperti biasanya, yang setelah belajar akan bermain dengan teman-temannya, kemudian mulai menggembala di lereng-lereng. Karena dibesarkan di keluarga yang agamis, Ali Mustofa tumbuh dengan bekal pemahaman agama yang luar biasa yang didapatkannya dari ayah, ibu, dan juga kakeknya. Dan di masa itu, ayah dan kakek Ali Mustafa Yaqub mendirikan sebuah pondok pesantren yang semua santrinya adalah masyarakat yang ada di sekitar rumah mereka.

Nah ketika tamat dari SMP, Ali Mustafa Yaqub ingin melanjutkan pendidikannya ke pendidikan umum saja, namun ayahnya telah merancang ke depan seperti apa anaknya kelak. Ayahnya memutuskan untuk menyekolahkan Ali Mustafa Yaqub ke sebuah Pesantren saja agar bisa mendalami ilmu agama dengan sangat baik. Ali Mustafa Yaqub disekolahkan ayahnya ke pesantren Seblak yang ada di Jombang. Di tahun 1972, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Hasyim Asyari Jombang. Saat itu beliau mengambil konsentrasi di bidang bank syariah. Ketika menjadi santri Ali Mustafa Yaqub mendapatkan banyak sekali pengalaman dan ilmu pengetahuan di bidang agama, seperti kitab kuning, tafsir, bahasa Arab, hadits, dan lain sebagainya.

Dan di pondok pesantren juga lah Ali Mustafa Yaqub mulai menghafal berbagai macam kitab kuning. Dengan berbekal kemampuan yang sangat luar biasa, Ali Mustafa Yaqub kemudian diberikan amanah untuk mengampu mata pelajaran bahasa Arab dan kitab kuning di almamaternya yang tercinta, sampai tahun 1976 Ali Mustofa Yakub masih merasa belum juga puas, ia merasa ilmu yang dimilikinya masih belum cukup, sehingga ia memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang LC di universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Saud dan di fakultas yang sama yaitu fakultas syariah. Perjuangan terus berlanjut.

Hingga akhirnya ketika usianya genap 60 tahun, Allah subhanahu wa ta’ala memanggil beliau. Beliau adalah bapak hadis di Indonesia.